Kuala Lumpur – Bagi Eka Putra Zakran, SH, MH, ruang kelas tidak selalu berada di dalam kampus. Terkadang, ruang belajar terbaik justru hadir ketika gagasan dipertemukan lintas negara, budaya, dan tradisi akademik. Itulah yang dirasakannya saat mengikuti International Academic Visit yang diselenggarakan Program Doktor (S3) Hukum Islam Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Medan di Kuala Lumpur, Malaysia.
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Advokat Negarawan Indonesia (DPP AdNI) itu menjadi bagian dari 29 delegasi UINSU yang menjalani rangkaian kunjungan akademik dan Focus Group Discussion (FGD) International ke Faculty of Law International Islamic University Malaysia (IIUM) dan Faculty of Law Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) pada 25–28 Juni 2026.
Bagi EPZA, sapaan akrabnya, agenda tersebut lebih dari sekadar kunjungan kampus. Menurutnya, International Academic Visit menjadi ruang bertukar perspektif sekaligus memperkuat jejaring akademik yang sangat dibutuhkan oleh perguruan tinggi di era global.
“Belajar tidak hanya dari buku dan ruang kuliah. Ketika kita berdiskusi langsung dengan akademisi dari negara lain, kita memperoleh pengalaman, cara pandang, dan inspirasi yang tidak ternilai. Karena itu saya mengatakan, International Academic Visit UINSU is the best,” ujar Eka dari Kuala Lumpur.
Selama berada di Malaysia, delegasi Pascasarjana UINSU dipimpin Direktur Pascasarjana Prof. Dr. Nurussakinah, M.Psi, didampingi Wakil Direktur Prof. Dr. Salamuddin, MA, Ketua Program Studi S3 Hukum Islam Prof. Arifuddin Muda Harahap, M.Hum, beserta jajaran dosen dan tenaga kependidikan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan penyerahan simbolis Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) aktif Pascasarjana UINSU kepada Eka Putra Zakran di Kingston Hotel, Kuala Lumpur, Jumat (26/6), sebelum seluruh delegasi bertolak menuju IIUM dan UKM.
Di kedua kampus tersebut, delegasi UINSU diterima hangat oleh para akademisi. Di IIUM, rombongan disambut Prof. Dr. Sonny Zulyadi bersama timnya, sedangkan di UKM diterima Prof. Dr. Helmi MD Said beserta jajaran fakultas hukum.
Diskusi berlangsung dalam suasana yang akrab dan produktif. Berbagai isu mengenai pengembangan pendidikan tinggi, penguatan riset, internasionalisasi kurikulum, hingga pengembangan studi Hukum Islam menjadi topik yang dibahas bersama.
Menurut Eka, atmosfer akademik yang dibangun kedua universitas tersebut menunjukkan bahwa kemajuan perguruan tinggi lahir dari keterbukaan terhadap kolaborasi dan pertukaran ilmu pengetahuan.
“Saya memang senang bepergian, tetapi perjalanan yang paling berkesan adalah perjalanan yang membawa nilai akademik. Banyak pengetahuan baru yang kami peroleh, banyak sahabat baru yang kami temui, dan banyak inspirasi yang kami bawa pulang untuk kemajuan UINSU,” katanya.
EPZA menilai kegiatan seperti ini perlu terus diperluas karena menjadi investasi jangka panjang bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Baginya, mahasiswa doktoral tidak cukup hanya menguasai teori, tetapi juga harus memiliki pengalaman internasional agar mampu melihat perkembangan ilmu pengetahuan dari perspektif yang lebih luas.
International Academic Visit yang digagas Program Doktor Hukum Islam Pascasarjana UINSU itu pun menjadi penanda semakin kuatnya langkah kampus dalam membangun kolaborasi global. Bukan sekadar memperluas jaringan kelembagaan, tetapi juga menghadirkan pengalaman akademik yang membentuk cara berpikir, memperkaya wawasan, dan menyiapkan lulusan yang mampu bersaing di tingkat internasional.
Bagi Eka Putra Zakran, satu kalimat sudah cukup menggambarkan seluruh pengalaman tersebut: “International Academic Visit UINSU Is The Best.”


















