Jakarta – Suasana di bawah kolong jembatan Pesanggrahan mendadak berubah khidmat saat Ustadz Endang Irawan berdiri di tengah jamaah Majelis Mutiara Religi Jalanan. Bukan sekadar pengajian biasa, kehadiran beliau membawa misi besar: membedah tuntas bahaya pinjaman online (pinjol) dan judi online (judol) yang kini dinilai kian menggerus mentalitas masyarakat.
Pesan yang disampaikan tidak hanya menyasar warga di pinggiran jalan, tetapi juga menjadi peringatan keras bagi seluruh lapisan masyarakat yang hidup dalam genggaman teknologi digital.
Dalam ceramahnya yang lugas dan menyentuh, Ustadz Endang menegaskan bahwa jebakan pinjol dan judol merupakan bentuk modern dari “perbudakan setan”. Ia memaparkan tiga poin utama sebagai benteng perlindungan diri.
Pertama, pentingnya keberkahan dalam menjemput rezeki. Ia menekankan bahwa rezeki yang sedikit namun berkah jauh lebih menyelamatkan dibandingkan uang dalam jumlah besar yang berasal dari praktik haram. Menurutnya, nilai harta tidak diukur dari besarnya, melainkan dari asal-usul dan cara memperolehnya.
Kedua, bahaya istidraj atau kenikmatan yang menyesatkan. Ustadz Endang mengingatkan bahwa kemenangan kecil dalam judi online hanyalah umpan menuju kehancuran yang lebih besar. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai jebakan yang membuat seseorang terlena hingga akhirnya kehilangan harta, keluarga, bahkan keimanan.
Ketiga, memperkuat sikap sabar dan syukur. Ia menilai maraknya pinjol dipicu oleh hilangnya kesabaran dan keinginan hidup instan. Menurutnya, rasa syukur menjadi kunci untuk menghadapi keterbatasan, sementara ketidakpuasan justru mempersempit kehidupan.
Kehadiran Ustadz Endang di lokasi yang tidak lazim ini dinilai menyulut kesadaran kolektif. Dakwah yang turun langsung ke akar rumput dianggap lebih efektif dalam menyentuh persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Dalam seruannya, ia mengajak seluruh elemen masyarakat—tanpa memandang status sosial—untuk menjauhi praktik judol dan pinjol. Ajakan tersebut disambut haru oleh sebagian jamaah yang merasa tersadarkan.
Pengajian Majelis Mutiara Religi Jalanan pun ditutup dengan komitmen bersama untuk saling menjaga dan mengingatkan. Pesan yang disampaikan jelas: tidak ada jalan pintas menuju ketenangan hidup, selain memperkuat iman dan diiringi kerja keras sebagai pondasi utama keselamatan dunia dan akhirat.


















