JAKARTA — Pencegahan bullying terhadap anak dinilai tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Keluarga, khususnya orang tua, memiliki peran penting dalam menciptakan ruang aman bagi anak untuk bercerita dan menyampaikan persoalan yang dihadapinya.
Pesan tersebut mengemuka dalam Seminar Anti-Bullying yang digelar Gerakan Pendidikan Indonesia Baru (GPIB) DPW DKI Jakarta bersama SDN Tanjung Barat 04 Pagi, Senin (28/9/2026).
Seminar yang mengangkat tema “Anak Aman, Sekolah Nyaman: Peran Orang Tua Mencegah Bullying” itu diikuti para orang tua murid kelas 1 hingga kelas 6 yang tergabung dalam Komite Sekolah dan koordinator kelas (korlas).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program MeSRA atau Mewujudkan Sekolah Ramah Anak DPW DKI Jakarta.
Plt Kepala SDN Tanjung Barat 04 Pagi, Nanik Wijayanti, M.Pd., mengatakan sekolah memberikan apresiasi terhadap kegiatan tersebut karena upaya mencegah bullying membutuhkan kerja sama antara sekolah dan keluarga.
“Saya sangat berterima kasih kepada GPIB, khususnya juga kepada komite dan orang tua murid dari SDN Tanjung Barat 04 Pagi yang mendukung sosialisasi sekolah aman tanpa bullying,” ujar Nanik kepada awak media.
Menurut Nanik, bullying merupakan persoalan yang perlu dicegah sejak dini. Terlebih, perilaku tersebut dapat berdampak terhadap anak apabila tidak diketahui dan ditangani dengan baik.
“Dengan adanya sosialisasi ini diharapkan orang tua dan sekolah dapat bersinergi mengurangi bullying, terutama karena orang tua adalah pendidik pertama di rumah,” katanya.
Nanik mengatakan pendidikan anak tidak hanya berlangsung di sekolah. Lingkungan keluarga menjadi tempat pertama anak memperoleh pembelajaran mengenai sikap, perilaku, dan cara berinteraksi dengan orang lain.
Ia pun mengingatkan orang tua untuk memperhatikan kebiasaan komunikasi di rumah, termasuk ketika memberikan candaan kepada anak.
“Di sekolah tidak boleh mengatakan gendut, hitam, pesek dan sebagainya. Tapi di rumah ibunya memanggil anaknya dengan panggilan seperti itu. Padahal di sekolah tidak boleh body shaming,” ujarnya.
Menurut Nanik, sebuah ucapan yang dimaksudkan sebagai candaan belum tentu diterima sebagai candaan oleh anak.
“Kata ibu bercanda, tapi menurut teman ibu bercanda enggak,” katanya.
Karena itu, ia meminta sekolah dan orang tua membangun pemahaman yang sama terkait pencegahan bullying.
“Biar kita satu persepsi, satu pemahaman antara guru dengan orang tua di rumah. Jadi apa yang diajarkan di sekolah, itu juga yang diajarkan di rumah,” tutur Nanik.
Anak Perlu Memiliki Tempat untuk Bercerita
Pemateri seminar, Evi Fatmawati, A.Md., mengatakan materi yang diberikan kepada orang tua menitikberatkan pada peran keluarga dalam mencegah bullying dan kekerasan terhadap anak.
Menurut Evi, orang tua harus menjadi pihak yang pertama kali bersedia mendengarkan cerita anak.
“Orang tua harus menjadi orang yang pertama mendengar dan menjadi seorang yang terpercaya bagi cerita anaknya,” kata Evi.
Ia mengatakan komunikasi antara sekolah dan orang tua juga perlu berjalan dua arah. Dengan komunikasi yang baik, persoalan yang dialami anak dapat lebih cepat diketahui.
Evi mendorong sekolah memiliki saluran pengaduan yang dapat digunakan siswa ketika mengalami atau melihat tindakan bullying.
“Setidaknya harus ada dua arah komunikasi antara orang tua dan sekolah. Sekolah bisa mengadakan semacam kotak pengaduan yang bisa dilakukan untuk anak muridnya,” ujarnya.
Menurut Evi, keberadaan saluran pengaduan menjadi salah satu cara agar persoalan yang dialami siswa tidak berhenti sebagai masalah yang dipendam sendiri.
Ia juga meminta orang tua membangun suasana rumah yang membuat anak merasa nyaman untuk menyampaikan cerita.
“Saya ingin orang tua menjadi orang yang ternyaman untuk anak-anaknya, bisa menjadi rumah yang aman untuk anak-anaknya,” katanya.
MeSRA Jadi Bagian Program GPIB
Ketua GPIB DPW DKI Jakarta, Edy Dwi Yanto, SE, mengatakan seminar tersebut merupakan bagian dari program kerja GPIB DPW DKI Jakarta di bidang pendidikan dan perlindungan anak.
Edy mengatakan program MeSRA mulai dijalankan sebagai salah satu upaya mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang ramah bagi anak.
“Alhamdulillah kami ke sini kedua kalinya. Yang kemarin tanggal 15 kita ada santunan Al-Qiyatin. Dan Alhamdulillah tanggal 28 ini kita launching juga mengenai program MeSRA,” ujar Edy.
Edy mengatakan GPIB juga menyiapkan sejumlah program lainnya.
“Insyaallah nanti ada program-program yang lain, seperti program sekolah sehat. Ada juga cegah tawuran, kita juga ada pemberantasan narkoba. Kita akan launching juga nanti bertahap,” katanya.
Menurut Edy, program tersebut diharapkan dapat melibatkan berbagai unsur pendidikan dan masyarakat.
“Semoga bermanfaat untuk ibu-ibu di sini atau orang tua, sebagai upaya untuk nanti membentuk anak-anak yang berkarakter,” ujarnya.
Sementara itu, Nanik menegaskan bahwa pendidikan karakter harus berjalan beriringan dengan pendidikan akademik.
“Yang penting itu, yang utama kita tanamkan adalah karakter,” kata Nanik.
Seminar dihadiri Plt Kepala SDN Tanjung Barat 04 Pagi Nanik Wijayanti, M.Pd., Wakil Kepala Sekolah Rasyid Indra Jaya, S.Pd., Ketua Umum GPIB Ir. Agung Karang


















